Secara biologis, bunga tidak memberikan asupan nutrisi
langsung seperti buah-buahan, juga tidak bisa dijadikan tempat berlindung.
Namun, sepanjang sejarah peradaban, manusia secara konsisten menanam,
menghadiahkan, dan mengagumi bunga. Mengapa demikian?
Sebuah penelitian menarik yang diterbitkan dalam
jurnal Behavioral Sciences berjudul "Humans'
Relationship to Flowers as an Example of the Multiple Components of Embodied
Aesthetics" mencoba mengupas misteri ini. Melalui studi ilmiah
yang dipimpin oleh Ephrat Huss, Kfir Bar Yosef, dan Michele Zaccai, para
peneliti mengungkap bahwa ketertarikan kita pada bunga bukanlah sekadar
preferensi visual biasa, melainkan sebuah pengalaman mendalam yang disebut
dengan Embodied Aesthetics (estetika yang dihayati secara
fisik/tubuh).
Apa Itu “Embodied Aesthetics”?
Selama ini, kita sering menganggap keindahan sebagai sesuatu
yang dinilai secara kognitif—kita melihat sesuatu, lalu otak kita memutuskan
apakah itu indah atau tidak. Namun, konsep embodied aesthetics memandang
keindahan dengan cara yang jauh lebih utuh. Keindahan bukan sekadar apa yang
ditangkap oleh mata, melainkan bagaimana seluruh tubuh dan sensori kita
berinteraksi dengan objek tersebut.
Saat berhadapan dengan bunga, seluruh sistem sensorik kita
terlibat—dari warna-warni mahkotanya (visual), kelembutan kelopaknya (taktil),
hingga keharuman yang dikeluarkannya (olfaktori). Hubungan ini memicu respons
emosional dan fisik seketika, menurunkan tingkat stres, dan menghadirkan rasa
nyaman tanpa perlu analisis berpikir yang rumit.
“Penelitian ini membuktikan bahwa estetika bukan sekadar
teori di atas kertas atau hiasan dinding, melainkan mekanisme adaptif yang
menghubungkan emosi manusia secara mendalam dengan ekosistem sekitarnya.”
Bunga sebagai Simbol Multidimensi: Temuan dari Penelitian
Dalam studi tersebut, para peneliti melibatkan 120 mahasiswa
untuk mengeksplorasi apa yang ada di pikiran dan perasaan mereka ketika
mendengar kata "bunga". Dari analisis peta konsep (concept maps)
dan pilihan jenis bunga, peneliti menemukan bahwa hubungan manusia dan bunga
terdiri dari tiga komponen utama:
- Komponen
Emosional dan Sensorik: Bunga bertindak sebagai stimulus instan
yang memicu emosi positif. Warna yang cerah dan bentuk yang simetris
memberikan rasa keteraturan alami yang menenangkan sistem saraf manusia.
- Komponen
Kognitif dan Kultural: Bunga secara universal digunakan untuk
mengekspresikan hal-hal yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kita
menggunakan bunga untuk merayakan pernikahan, menghibur yang sakit, hingga
menunjukkan rasa duka mendalam pada upacara kematian. Bunga melambangkan
siklus kehidupan: pertumbuhan, keindahan maksimal, hingga kelayuan.
- Komponen
Ekologis dan Evolusioner: Secara evolusioner, keberadaan bunga di
alam liar menandakan lingkungan yang subur dan menjanjikan kehidupan
(karena bunga akan menjadi buah atau menarik ekosistem pendukung).
Meskipun kita sekarang hidup di era modern dan perkotaan, insting purba kita
tetap mengenali bunga sebagai simbol "oasis" atau keamanan
ekologis.
Mengapa Kita Perlu Menghadirkan Lebih Banyak Bunga dalam
Hidup Sehari-hari?
Di tengah padatnya aktivitas digital dan kehidupan urban
yang sering kali memicu kejenuhan (burnout), hasil penelitian ini
memberikan sebuah solusi sederhana namun saintifik. Mengintegrasikan elemen
bunga ke dalam ruang hidup atau ruang kerja bukan lagi sekadar urusan dekorasi
atau pamer estetika di media sosial.
Menempatkan tanaman berbunga di meja kerja atau meluangkan
waktu sejenak di taman bunga adalah bentuk investasi pada kesehatan mental
kita. Praktik ini mengaktifkan kembali hubungan sensori tubuh kita dengan alam
(grounding), menurunkan hormon kortisol (stres), serta mampu mendongkrak
kreativitas dan fokus.
Jadi, kali berikutnya Anda melewati toko bunga atau melihat
bunga liar bermekaran di tepi jalan, berhentilah sejenak. Nikmati warnanya,
hirup aromanya, dan biarkan tubuh Anda merasakan kedamaian alami yang
ditawarkannya. Karena mencintai bunga, ternyata adalah cara tubuh kita
merayakan kehidupan itu sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar